.

Sabtu, 21 Maret 2015

Litani Anthitesis

Aku tak dapat berdoa:' Berikan dia untukku!' Tetapi sering rasanya dia seakan menjadi milikku. Aku tak dapat berdoa:'Berikan dia padaku!' Karena dia adalah milik orang lain. Aku berkelakar dengan diriku sendiri tentang kepedihanku; jika tidak kukekang diriku, jadilah ini litani antithesis yang panjang. ('Infinitum' Ahyar Anwar
Aku telah berpikir keras dan lama mengenai kebebasan berkehendak, ternyata kita tak bisa memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu, termasuk memaksa mereka untuk mencintai kita, ataupun mencintai sesama mereka. Meskipun sebelumnya kita telah memberi mereka apa saja yang kita pikir akan membantu ; logika, alasan, empati dan segudang rasa humor. Tetapi, apakah mereka menggunakanya atau tidak, semua itu terserah mereka. yang bisa kita lakukan hanyalah terus mencintai mereka dan berharap bahwa yang terbaiklah yang akan terjadi.
Seperti halnya kita tahu bahwa kehidupan itu adalah rentetan kejutan dan keajaiban, maka kita hanya bisa menunggu sambil berihtiar. Kenapa harus meragu pada sesuatu yang masih misteri? Kita akan jadi apa yang kita pikirkan. Hanya angankan dan harapkan yang terbaik, maka hal-hal baik akan bersama kita.

Balada Guru Syahbuddin


Aku teringat lagunya Iwan Fals tentng Guru Umar Bakri, yang rajin pangkal miskin karena gajinya dikebiri. Namun saat ini ketika anggaran pendidikan 20% lebih sepertinya tidak ada lagi guru Umar Bakri. Sertifikasi, remunisasi, inpasing dan sejenisnya menciptakan Umar Bakri yang berlimpah rupiah, malas pangkal kaya dan hemat pangkal kikir yang menghitung hari dan tanggal "Kapan uang sertifikasi masuk rekening?"
Tapi ini kisah temanku, seorang guru sukarela yang tidak rela disebut demikian. Hanya karena diploma 2 dia menjadi guru. tak ada sertifikasi, remunisasi atau inpasing. hanya tiga lembar rupiah merah bergambar Sukarno yang ia terima, itupun 3 bulan sekali.
Guru Syahbuddin itu guru, dia juga buruh, buruh tani, buruh pasir, tukang batu dan terkadang tukang kayu. tapi dia bahagia, bahagia atas keringat ketulusan dan kejujurannya. Bukan uang negara tapi dia adalah guru yang mencerdaskan anak-anak negara tetapi tidak diperhitungkan oleh negara.
Hari ini pun dia guru, senin, rabu dan jumat dia adalah guru. selasa, kamis dan sabtu dia adalah buruh. dan minggunya dia adalah ayah dari anak dan istrinya. Aku pernah bertanya padanya "anda siapa guru?". Dia menjawab "aku hanyalah seorang lelaki yang ingin jujur dan apa adanya". aku terkesima mendengarnya.
Bagiku dia tidak hanya seorang guru bagi anak-anak didiknya. bukan pula buruh bagi mandor-mandornya tapi jauh di atas itu. guru kehidupan yang mengajarkan bagaimana untuk tidak menjadi manusia cengeng yang selalu berteriak "mau makan apa kita besok?"
Dia adalah kawan, guru dan sekaligus inspirasiku tentang bagaimana menatap kehidupan. hidup bukan untuk disesali tetapi hidup untuk dijalani. pahit manisnya adalah bingkisan kado dari Tuhan untuk kita yang menghargai keputusan-Nya.




"Senandung Lirih"

Ada anak bertanya pada bapaknya "Untuk apa kami ada,  Pak?"

"Untuk menjadi bapak dari anak-anakmu kelak".
Hidup adalah siklus yang selalu berulang, bagai matahari selalu terbit dari timur dan terbenam di barat.
Adakah sesuatu yang asing ketika kita berpijak di bumi yang lain? Adakah sesuatu dianggap baru ketika kita hidup di suatu masa yang lain?
Hari ini engkau ada di sini, esok hari engkau akan berada di sudut waktu yang lain, yaitu ketika engkau bosan menjalani ini.
Ketika kau berteriak "Aku bukan apa-apa di hamparan jagat raya ini, hanya setitik debu yang tak berharga". Lalu apa yang kita banggakan? Apa yang mesti kita busungkan dada?
Ketika sangkakala Tuhan memanggilmu, maka ketika itu pula engkau lenyap dan kembali ke asalmu "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun".

Selasa, 16 Desember 2014

Sebab Kita Ada

Jika layar  menancap pada perahumu tumbang,
Bukit  pun pantai mesti kau lambai
Tak mesti jadi lebih saat kau mampu
Saat tangan menggapai jemari
Ulur mesti kau segerakan
Sebab kita ada untuk kita, ia dan mereka.
Juga semua.
Marilah berguna...
                                    Makassar, dua ribu empat belas

Sabtu, 22 November 2014

Manusia dan Roti

Kehidupan manusia dan kehidupan masyarakat, bukanlah seperti apa yang tampak. kenyataanya, kehidupan
itu mengikuti suatu pola yang jelas bagi sebagian orang dan tersembunyi bagi yang lainya. lagipula, ada lebihdari satu pola yang bergerak setiap waktu. sekali pun begitu, manusia mengambil satu bagian dari satu pola dan mencoba menyatukanya degan bagian lain. Mereka selalu menemukan apa yang mereka harapkan, bukan apa yang sungguh nyata.
Keadaan manusia pada umumnya seperti gandum di ladang, air di sungai dan garam di tambang. ia ciptaan yang beberapa indranya sempurna dan skaligus ciptaan yang memiliki potensi dan kemampuan yang masih bisa dikembangkan lebih lanjut.  Masing-masing ketiga tingkatan tadi mewakili hakikat dari kemampuan manusia. kemampuan itu bisa tetap apa adanya atau keadaan mungkin mengubahnya. ini adalah keadaan dari tingkat pertama, atau keadaan manusia. akan tetapi, pada tingkatan kedua, kita memiliki taraf di mana sesuatu yang lebih lanjut bisa dilakukan. gandum, dengan usaha dan pengetahuan, dikumpulkan dan digiling menjadi tepung. Air ditimba dari sungai dan disimpan untuk penggunaan lebih lanjut. Garam disuling dan disaring, ini adalah tingkatan yang kegiatanya berbeda degan yang pertama tadi, yang hanya sekedar pertumbuhan.
Dalam tingkatan ini, pengetahuan yang tadinya tersimpan kemudian digunakan. Tingkatan ke tiga bisa tercipta hanya setelah ketiga hakikat, dalam jumlah dan ukuran yang tepat telah dipadukan di tempat tertentu dan pada waktu tertentu. Garam, air dan tepung dicampur dan diremas menjadi adonan. sebuah unsur hidup ditambahkan ketika pada adonan itu dimasukan ragi, dan tanur (panggangn roti) di siapkan untuk memanggang roti. pembuatan roti ini bergantung kepada 'sentuhan' seperti juga kepada pengetahuan yang tersimpan. segala sesuatu akan berlaku menurut situasinya; dan situasi itu adalah tingkatan di mana sesuatu itu ada.
bila tujuanya adalah roti, mengapa ribut soal penyaringan garam?