.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 16 Desember 2014

Sebab Kita Ada

Jika layar  menancap pada perahumu tumbang,
Bukit  pun pantai mesti kau lambai
Tak mesti jadi lebih saat kau mampu
Saat tangan menggapai jemari
Ulur mesti kau segerakan
Sebab kita ada untuk kita, ia dan mereka.
Juga semua.
Marilah berguna...
                                    Makassar, dua ribu empat belas

Jumat, 21 November 2014

Kisah Dalam Angka


Ada kisah dalam angka,,,
bagaimana satu menjadi dua..
dan bagaimana serakahnya dua hendak melampaui sepuluh....
melangkah dalam keheningan usaha dan kehampaan doa...
hiduplah mulai dari satu sampai sepuluh....

Sabtu, 08 November 2014

Tersedak Koma dan Tanda Baca


Pagi kau tanya padaku; puisi
apa yang kau cari

mengurai jawab tak cari sebab
syair media gugusan jiwa
semesta beku menanti cair
bergulir dalam tetesan nektar
bisa bumi berubah empedu

mulialah dia di tangan sang pencinta
walau di tulis dengan kebodohan
mulialah yang jujur di sarang tawa dan penderitaan
dialah bahagia dalam kerumunan air mata

tak berduka oleh luka
tak takjub gegap pagelaran jagad
mengkaji makna isi kepala di tebak
persetan orang bilang
di panggung punggung tak mencari kamus
Apalah arti tersedak koma dan tanda baca
bila maksud tak tercerna.


Seonggok Pribadi Luka

Pulang kesarang merapal nujum
laun perselingkuhan jiwa membumbung
langit semakin sempit
tanah menggelinding
binatang menggeliat-geliat

kusebut namamu Tuhan di puncak jiwaku
ketika akal mendaki segunduk pikiran
lumayan masih kuingat
ketika aku melucuti debu
ketika rasa mengabu

lantas kutanya surga yang berbeda
apa jawabnya ketika Tuhan masih diam
tak tersentuh eja–ilmu peradaban

Simpan kebencianmu walau berada di hujung lidah..
Aku hanya seonggok pribadi luka
Yang penuh nista

Kubersimpuh mengangkat tangan dihadapan Rabb,,,inilah kenistaanku
Insan biasa penuh hitam..

Secangkir Pengharapan

Secangkir kesetiaan kekasih dalam desahan sapa,
Teruntai dalam jaring-jaring magnet yang melintasi ruang hampa di batas cakrawala,
Adakah pagi kan tersenyum ketika mentari menyeringai buas?
Adakah tetes embun ketika hujan tak' lagi bernyanyi?
Tuhan, kirimilah kami hujan dari awan MU,

Bukan hujan air mata krna bencanaMU.

Imajinasi Sesat

Aku mulai terpuruk dalam imajinasi sesatnya,
menjadikan dia sebagai berhala birahi
ketika aku menatap tajam dalam titik hitam matanya...
ada aura neraka di sana
berusaha membakar setiap urat nadi Tuhan..
akh, baiknya aku hindari saja tatapan yang menembus itu agar bisa terjaga

dari hipnotis yang menyesatkan ini.

Minggu, 19 Oktober 2014

Manusia-manusia, Tuhan

Bila manusia berani bertikai atas nama Tuhan
Lalu atas nama siapa lagi manusia berani berdamai?

Mengapa hari menjadi benci
Anak manusia mengembara memikul dendam
Melupakan kampung nurani sendiri
Yang dahulu terang di rembulan

Mengapa hari menjadi amarah
Anak manusia lahap menelan matahari
Jiwa jadi kemarau tandus terbakar
Menghanguskan sungai-sungai nurani

Hari ini penantian
Anak manusia merindu kicau burung
Menghibur embun menanti pucuk daun

Tetapi ini duka, ini luka
Masih dalam dan kelam bagi sebiji rasa rindu
Tapi duka luka ini
Masih lembah gelap bagi setitik lentera
Yang menggigil diterpa angin rimba

Bila manusia berani bertikai atas nama tuhan

Lalu atas nama siapa lagi manusia berani berdamai?

Engkau Kekasihku

Diantara jutaan senyum sang kekasih,
Tiada yang ikhlas ku lihat.
Semua penuh dengan kedustaan
Diantara yang datang dan hadir dalam istana hati,
Tiada yang singgah
Semua telah pergi...
            Adakah kekasih sejati sesuatu yang tak pernah singgah?
            Adakah arti sebuah cinta ketika sesuatu tak pernah abadi kita miliki?
kekasih sejati adalah yang tetap ada dan singgah di hati walau nafas terhenti.
Dia tak pernah jauh walau kita mengutuk-Nya.
            Mungkinkah kekasih sejati itu ada diantara yang datang ini?
            Saat ini dia datang dan entah kapan akan pergi.
Aku tak ingin menjadi kekasih sesaat,
Sebab hatiku selalu membutuhkan-Nya.
            Biarlah ku butakan mata ini untuk mereka yang tak pernah singgah
            Biarlah cinta, hati dan jiwa ini ku persembahkan untuk-Mu saja

            Sebab hanya Engkaulah kekasih sejatiku. 

Ka’bah fakir miskin

Berapa banyak kah Tuhan itu?
Ada banyak bagi orang-orang yang bodoh
Sebanyak rumah-rumah-Nya.
Masjid rumah-Nya.....
Mushallah, surau, ka’bah.
Semua rumah-Nya.

Ka’bah ini hanya bagi orang-orang kaya
Bertamasya dari hiruk pikuk kota...
Tempat larinya para penjajah dosa

Adakah tempat buat mereka yang fakir dan miskin di ka’bah-Mu?
Mereka yang tak berrupiah untuk melayang ketempat-Mu itu.

Ka’bah-Nya adalah hatimu
Tempat jatuh pandangan-Nya
Itulah istana yang megah

Rawatlah ia agar engkau dijaga.

Shiratal Mustaqim Kehidupan

Sehelai rambut dibelah tujuh
Tempat kita berjalan menuju cinta-Nya.
Adakah yang selamat?

Engkau tanami benih pahala sekarung, benih dosa seikat
neraka tempatmu.
Engkau tanami lagi benih dosa sekarung, benih pahala seikat
Syurga tempatmu.

Jalan lurus itu kebaikan,
Keikhlasanmu menanam amal
tanpa  mengharap syurga dan neraka

menolong semut yang tenggelam dengan menunda shalat asharmu
adalah jalan lurus menuju ridho-Nya
membiarkan anjing kehausan karena takut menunda shalat,
adalah jalan bengkok menuju murka-Nya.

Shiratal mustaqim adalah ketika engkau luruskan niat dan hatimu
Semata-mata untuk Dia,
Walau dunia mengancam.




Sabtu, 06 September 2014

Berulang Mengeja

Berulang kueja nama,
berulang dalam zikir rindu 
tapi tak sampai pada hakikat alif ba ta
ku berulang kueja nama berulang dalam dawam cinta
tapi tak khatam sampai pada makna.
berulang kueja nama berulang hingga tumpas diri mabuk kepayang
bayangmu di puncak nyeri rahasia wajahmu

Senin, 09 Juni 2014

selaksa Rindu



Ada sisa kenangan yang mesti kita teguk malam ini
Tentang  jaring-jaring melengkung dan bujursangkar yang membatas
Tentang asa nan memasrah,
tentang rindu pun penantian.
Jika getarmu meletup pada muasal
Carilah  pintas untuk muara kembali
Jika ragamu harap pada kasih
Jalar kan kita jembatankan.
Rindu menumpuk mengalahkan detak. Detak merentak mencabit-cabit
Aish, Sekilat rona mencerah pula pada kelopak indera terbaca itu
Telepati mengkantup telapak dua, tiga pun empat dengan buncah haru
Oe ina, oe ama jedakan detik untuk membuai
Sampai telepati dua, tiga dan empat berulang melepas saat fajar nanti.
                                                                                    Mks, 4 Juni 2014

Kidung sunyi



Riuh gemuruh menancap rupa
Melekatkan kidung pada lembayung senja ini.
Sekian menit yang robek mengantar kita menuju pada pekat berklimaks
 Kelam mensunyi dalam sekon jarak pun kembali tercipta dalam peraduan
Kini, waktunya muhasabah dalam tafakkur
Hamparkan kembali sajadah yang sempat tergulung
Mulailah dengan menyebut asma-asma-Nya
Hadirkan khauf dan raja’ dalam relung bathinmu
Fatamorgana dunia selangkah ke belakang kita abaikan
Harusnya, nyanyian rindu syurgawi yang terangkum pada kalam-Nya
pun dera menyiksa pada ketidakberuntungan kelak
Memacu  mahabbahmu untuk terus bermunajat
Iqra...
Beberapa tanda kan terjawab.
                                                                        Mks, 5 Juni 2014