.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Maret 2015

Litani Anthitesis

Aku tak dapat berdoa:' Berikan dia untukku!' Tetapi sering rasanya dia seakan menjadi milikku. Aku tak dapat berdoa:'Berikan dia padaku!' Karena dia adalah milik orang lain. Aku berkelakar dengan diriku sendiri tentang kepedihanku; jika tidak kukekang diriku, jadilah ini litani antithesis yang panjang. ('Infinitum' Ahyar Anwar
Aku telah berpikir keras dan lama mengenai kebebasan berkehendak, ternyata kita tak bisa memaksa seseorang untuk berbuat sesuatu, termasuk memaksa mereka untuk mencintai kita, ataupun mencintai sesama mereka. Meskipun sebelumnya kita telah memberi mereka apa saja yang kita pikir akan membantu ; logika, alasan, empati dan segudang rasa humor. Tetapi, apakah mereka menggunakanya atau tidak, semua itu terserah mereka. yang bisa kita lakukan hanyalah terus mencintai mereka dan berharap bahwa yang terbaiklah yang akan terjadi.
Seperti halnya kita tahu bahwa kehidupan itu adalah rentetan kejutan dan keajaiban, maka kita hanya bisa menunggu sambil berihtiar. Kenapa harus meragu pada sesuatu yang masih misteri? Kita akan jadi apa yang kita pikirkan. Hanya angankan dan harapkan yang terbaik, maka hal-hal baik akan bersama kita.

Rabu, 24 September 2014

Aku (+) adalah kamu (-)



+    : siapa kamu? Aku kenal kamu. 
-   :  Ya sudah seharusnya
+    : tapi siapa kamu?
-     : aku adalah “kamu”
+    : kamu adalah aku karena aku kenal kamu? Ini lucu
-     : kamu tidak mengerti… tapi kamu akan menjadi aku sepuluh tahun lagi.
+    : ini tidak lucu… aku pergi sekarang…
-     : pergi… dan membayangkan bahwa kamu akan menjadi dokter?
+    : bagaimana kamu tahu?
-     :  aku tahu karena aku adalah kamu… menjadi dokter, memeriksa pasien dan punya banyak penghasilan. Dan kamu juga ingin bapak dan ibumu berumur panjang. Karena itulah kamu ingin jadi dokter.
+    : bagaimana kamu tahu hal itu? 
- : karena aku adalah kamu.
+    : sungguh?
-     : ya, kamu akan menjadi aku sepuluh tahun lagi.
+    : kamu adalah seorang dokter, kalau begitu 
-   :  bukan
+    : tapi, kalau kamu bukan dokter, berarti kamu bukan aku 
-  : aku adalah kamu
+    : bagaimana mungkin? Aku akan menjadi dokter, sungguh! Jangan bilang kalau aku gagal. 
-  : tidak, kamu tidak gagal menjadi dokter
+    : lalu, siapa kamu sekarang?
-     : aku adalah mahasiswa kurikulum
+    : kurikulum? Belajar kurikulum? Aku pergi ke sekolah hanya untuk belajar kurikulum? Ini menggelikan! 
-   : tapi kamu akan belajar kurikulum
+    : aku gagal kalau egitu, aku gagal menjadi dokter
-     : kamu bisa berkata demikian. Kamu gagal menjadi dokter tetapi kamu tetap tidak gagal
+    : aku tahu aku gagal. Aku gagal menjadi dokter karena keuanganku jelek sekali. Itu hal yang paling parah. 
- : ya, aku mengerti. Kamu kecewa karena untuk menjadi dokter kamu harus punya banyak uang, itu yang kamu kira. Dan kamu merasa amat miskin. Aku tahu.
+    : bagaimana kamu tahu
-: karena aku adalah kamu. Kapankah itu? Aku menangis karena tidak ada biaya. Aku begitu takut  tidak  akan bisa masuk di universitas untuk menjadi dokter. Beberapa tahun yang lalu  hal itu terjadi… betapa sedihnya aku… kemudian hidup ditentukan berbeda.




Jumat, 05 Juli 2013

MENANTI AYAH



 ( Ini cerpen pertama saya yang pernah di muat di media lokal / Harian Suara Mandiri Bima, Edisi 7 Desember 2012 )
Dua tahun semenjak Ayah meninggalkanku, hatiku selalu dirundung sepi. Kepergian ayah untuk mengais rezeki di negeri seberang sungguh diluar dugaanku, bahkan bermimpi tentang kepergian ayahpun tak terlintas sama sekali dalam benakku. Kini hari-hari tanpa ayah kuhabiskan di kebun belakang rumah hanya untuk melamun. sesekali aku membuka catatan harianku, membaca ulang masa-masa ceriaku bersama ayah atau membuka album foto keluarga. Aku merasa, betapa bahagianya ketika aku dan ayah berdua masih sebagai tim yang kompak. Setiap pagi pergi ke kebun di belakang rumah memetik tomat dan cabe untuk keperluan dapur maupun dipasarkan, sorenya duduk bersama dan melihat matahari tenggelam di ujung terjauh kebun milik kami.
“Rasnah, ayo !” suara ibu tiba-tiba mengagetkanku.
“Sebentar !”secepat kilat tanganku memasukkan tomat dan cabe ke dalam keranjang.
“Iya, Bu. Ada apa?”

Selasa, 03 Juli 2012

AKAR SEBUAH CINTA


                                                     
                                                                Oleh : Irna Izzyatin
           
            Di awal musim kemerau itu, ibu duduk di tepi jendela menyaksikan daun-daun lepas dari tangkainya. Daun-daun yang telah berubah warna, kuning, merah, dan tembaga itu mendarat di atas rumput yang mengerut kedinginan. Bumi telah habis kehangatanya, sebentar lagi pohon-pohon itu akan kesepian ditinggalkan daun-daun . Angin yang menderu-deru bersekutu dengan angkasa yang buram tak bercahaya. Ku lihat dua titik air bening di kedua sudut matanya,

Senin, 28 Mei 2012

MENANTI AYAH

Dua tahun semenjak Ayah meninggalkanku, hatiku selalu dirundung sepi. Kepergian ayah untuk mengais rezeki di negeri seberang sungguh diluar dugaanku, bahkan bermimpi tentang kepergian ayahpun tak terlintas sama sekali dalam benakku. Kini hari-hari tanpa ayah kuhabiskan di kebun belakang rumah hanya untuk melamun. sesekali aku membuka catatan harianku, membaca ulang masa-masa ceriaku bersama ayah atau membuka album foto keluarga. Aku merasa, betapa bahagianya ketika aku dan ayah berdua masih sebagai tim yang kompak.